Setiap kehidupan mempunyai warnanya sendiri-sendiri, ada kegembiraan ada kesusahan dan semua itu akan dialami oleh setiap orang. Begitu banyak problematika hidup ini yang dapat menimbulkan kekhawatiran, ketidakpuasan, sakit hati, rasa terbuang, belum lagi hal sakit penyakit dan lain sebagainya
Ketika masalah datang tentu manusia berusaha untuk mencari penyelesaiannya. Berbagai-bagai cara ditempuh untuk menyelesaikan masalah, selain melakukan usaha secara nyata ada pula tambahan usaha yaitu pergi ke dukun, peramal, doa dan sebagainya.
Ketika manusia dihadapkan pada kesulitan yang dianggap tidak terselesaikan maka teriakan kepada Allah akan semakin kuat. Demikian juga untuk umat Nasrani maka doa akan dipanjatkan terus menerus kepada Tuhan Yesus agar masalah, kesusahan, sakit penyakit segera berlalu.
Lukas
17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
Penyakit kusta pada waktu itu adalah penyakit yang belum dapat disembuhkan, mereka dari berbagai-bagai suku bangsa yang terkena kusta dikumpulkan menjadi kelompok-kelompok dan diasingkan dari masyarakat umum. Penderitaan ini sangat berat dan berlangsung seumur hidup. Para penderita kusta ini tidak berani mendekat kepada Tuhan Yesus karena penyakit yang mereka derita. Jadi tidak ada pilihan bagi mereka untuk sembuh kecuali berteriak kepada Tuhan Yesus.
Lukas
17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
Sungguh membahagiakan bahwa suatu teriakan atau doa yang didengar oleh Allah. Secara duniawi doa yang dikabulkan akan membebaskan manusia dari kesesakan yang menghimpit. Akan tetapi ketika kesesakan ini hilang, manusia dapat berubah bahkan perubahan itu dapat demikian cepat. Sebagai contoh waktu kekurangan menangis dan ketika kaya menjadi sombong dan terlebih lagi tidak menggantungkan hidup kepada Allah tetapi menggantungkan hidup pada kekayaan.
Lukas
17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Apakah Tuhan Yesus kecewa dengan mengajukan pertanyaan pada Lukas 17:17 ?
Tuhan Yesus adalah sumber kasih, tentu Ia tidak menaruh kecewa terhadap sembilan orang yang menghilang setelah penyakit kustanya sembuh. Sebagai ayat tambahan adalah sebagian dari ayat Lukas 6:35,
....... sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat
Tulisan ini menafsirkan bahwa manusia itu sebenarnya tidak tahu berterima-kasih, pelupa, egois dan bodoh. Bila doa terkabul maka orang akan mensyukuri apa yang diperolehnya, juga mengucapkan terima-kasih kepada Allah untuk kemudian melupakannya.
Perlu diingat bahwa terkabulnya sebuah doa hanyalah merupakan suatu “petanda” , yaitu petanda penyertaan Allah.
Jadi ketika doa dikabulkan oleh Tuhan maka sebenarnya penyertaan Tuhan dalam hidup seseorang dimulai dan penyertaan Allah ini sangat berharga melebihi petanda itu sendiri. Oleh karenanya penyertaan Allah dalam kehidupan seseorang pantang ditampik karena hal ini merupakan suatu kebodohan.
Syukurilah penyertaan Allah ini dengan air mata kebahagiaan lebih dari pada apa yang diterima secara duniawi. Hanya dengan cara demikian seseorang dapat mengingat kebaikan dan memuliakan Allah.
Penyertaan Allah adalah jalan keselamatan dan hidup yang kekal selain itu juga alat penyelesaian untuk setiap masalah yang ada. Karena Allah tahu bahwa manusia hidup di dunia ini penuh dengan masalah, apabila hari ini kesusahan telah terselesaikan, bukankah hari esok masih ada kesusahannya sendiri.
Bukankah orang Samaria itu jauh lebih beruntung dibandingkan sembilan yang lainnya, karena ia memperoleh kesembuhan dari kusta dan juga keselamatan seperti firman Lukas 17:19.
Demikianlah firman Allah dan salam sejahtera.
Sulistio
Jadilah Donatur Ob.or.id |
Kembali Ke Depan |
Artikel Sebelumnya |
10 Artikel Terbaik